Senin, 06 Januari 2014

Pengertian, Cara Membuat, Contoh Parafrasa, dan jenis-jenis parafrasa

Pengertian Parafrasa
Parafrase atau parafrasa adalah pengungkapan kembali suatu tuturan bahasa ke dalam bentuk bahasa lain tanpa mengubah pengertian. Pengungkapan kembali tersebut bertujuan untuk menjelaskan makna yang tersembunyi. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, parafrasa adalah penguraian kembali suatu teks (karangan) dalam bentuk (susunan kata) yang lain, dengan maksud untuk dapat menjelaskan makna yang tersembunyi.
Cara Membuat Parafrasa
Ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam membuat parafrasa dari sebuah bacaan. Untuk membuat parafrasa lisan, langkah-langkahnya adalah membaca informasi secara cermat, mencatat kalimat inti, mengmbangkan kalimat inti menjadi pokok pikiran, menyampaikan pokok pikiran dalam bentuk uraian lisan dengan kalimat sendiri. Sunakanlah sinonim, ungkapan yang sepadan, mengubah kalimat langsung menjadi kalimat tidak langsung, mengubah kalimat aktif menjadi kalimat tidak aktif, serta menggunakan kata ganti orang ketiga untuk narasi jika kesulitan menguraikan.
Cara Memparafrasekan Puisi Menjadi Prosa
Bagaiamana cara memparafrasekan puisi menjadi prosa? Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memfaraprasekan puisi menjadi prosa, ialah :
  • Membaca atau mendengarkan pembacaan puisi dengan seksama ;
  • Pahami isi kandungan puisi secara utuh ;
  • Jelaskan kata-kata kias atau ungkapan yang terdapat dalam puisi ;
  • Uraikan kembali isi puisi secara tertulis dalam bentuk prosa dengan menggunakan kalimat sendiri ;
  • Sampaikan secara lisan atau dibacakan.
Parafrasa merupakan cara pengungkapan kembali suatu tuturan dari suatu tingkatan/ macam bahasa menjadi yang lain tanpa mengubah pengertiannya.
Ciri Parafrasa:
1. bentuk tuturan berbeda
2. makna tuturan sama
3. subtansi tidak berubah
4. bahasa/cara penyampaian berbeda
Berdasarkan jeisnya, parafrasa dibagi menjadi dua; parafrasa lisan dan parafrasa tulisan.
Langkah membuat parafrasa:
1. membaca teks keseluruhan
2. menentukan pokok-pokok pikiran wacana
3. menetuka tuturan yang  hendak menjadi variasinya
4. menyusun pokok pikiran tanpa mengabah arti
5. menyempurnakan pokok pikiran
6. membentuk wacana sesuai keinginan
Contoh 1
Selamat Tinggal
aku berkaca
ini muka penuh luka
siapa punya?
kudengar seru menderu
dalam hatiku
apa hanya angin lalu?
lagu lain pula
mmenggelepar di tengah malam buta
ah...!!!
segala menebal, segala mengental
segala tak kukenal
(Chairil Anwar)
parafrasanya menjadi:

Ketika si ku berkaca, aku sangat terkejut melihat mukaku ini mulai dipenuhi luka. Sebenanya ini punya siapa?
Aku mendengar suara yang seru menderu, dalam hati kubertanya, apakah itu hanya suara angin lalu?
Aku pun  mendengar lagu yang lain menggema menggelepar di tengan malam buta.
Ah,...!!
Segalnaya telah tiba menebal, bahkan segalanya jadi mengental, sehingga segalanya tidak aku kenal.
Contoh 2
Aku
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Bila peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Lukadan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang perih peri
Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar, DCD 1959:7)
Parafrasanya :
Kalau si aku meninggal, ia menginginkan jangan ada seorangpun yang bersedih, bahkan juga kekasih atau istrinya.
Tidak perlu juga ada sedu sedan yang meratapi kematian si aku sebab tidak ada gunanya. Si aku ini adalah binatang jalang yang lepas bebas, yang terbuang dari kelompoknya. Ia merdeka tidak terikat oleh aturan-aturan yang mengikat, bahkan meskipun ia ditembak, peluru menembus kulitnya. Si aku tetap berang dan memberontak terhadap aturan-aturan yang mengikat tersebut.
Segala rasa sakit dan penderitaan akan ditanggung, ditahan, diatasi hingga rasa sakit dan penderitaan itu pada akhirnya akan hilang sendiri.
Si aku akan makin tidak peduli pada segala aturan dan ikatan, halangan, serta penderitaan. Si aku mau hidup seribu tahun lagi. Maksudnya, si aku menginginkan semangatnya, pikirannya, karya-karyanya akan hidup selama-lamanya. (Rachmat Djoko Pradopo)
Jenis parafrasa ada 2 yaitu:
1.      Parafrasa terikat adalah mengubah puisi menjadi prosa dengan cara menambahkan atau menyisipkan sejumlah kata pada puisi sehingga kalimat-kalimat puisi mudah dipahami seluruh kata dalam puisi masih tetap digunakan dalam parafrasa tersebut.
2.      Parafrasa bebas adalah mengubah puisi menjadi prosa dengan kata-kata sendiri. Kata-kata yang terdapat dalam puisi dapat digunakan, dapat pula tidak digunakan.

Parafrasa Terikat
MENYESAL
Kini PAGIKU  HILANG SUDAH MELAYANG entah kemana
Sekarang HARI MUDAKU SUDAH PERGI jauh tak kan pernah kembali
KINI hanya PETANG yang DATANG MEMBAYANGi alam pikiranku
Yang kini BATANG USIAKU SUDAH mulai TINGGI.
Dulu AKU LALAI DI HARI PAGI,
Karena BETA LENGAH DI MASA MUDA yang masih suka bermalas-malasan
Hingga KINI HIDUP menjadi MERACUN HATI tak bisa berbuat apa-apa lagi
Sudah MISKIN ILMU, MISKIN HARTA pula
Namun AH, APA GUNA KUSESALKAN,
Karena MENYESAL TUA itu TIADA BERGUNA,
HANYA MENAMBAH LUKA SUKMA di hati
KEPADA YANG MUDA KUHARAPKAN,
Untuk ATUR BARISAN DI HARI PAGI,
MENUJU KEARAH PADANG BAKTI.
(ALY HASJMY)
  Parafrasa Bebas
                     Puisi meyesal karya Ali Hasjmi mengisahkan seseorang yang menyesali masa mudanya tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.Ia kurang hati-hati dan bermalas-malasan waktu muda dulu.Kini di hari tuanya, ia merasa miskin ilmu dan miskin harta, tidak berilmu dan tidak punya harta apa-apa. Ia merasa tidak ada guna menyesali diri. Akan tetapi, ia tidak berhenti dalam sesalnya.Ia berusaha bangkit dan mengajak generasi muda untuk merencanakan segala sesuatu dari sekarang menuju kearah tempat yang lebih baik (tempat yang dihormati).
Contoh puisi
Gadis Peminta-minta
Setiap kita bertemu, gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa
Ingin aku ikut, gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang.
Duniamu yang lebih tinggi dari menara katerdal
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiw begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan kotaku, oh kotaku          
Hidupnya tak lagi punya tanda
                         (Toto Sudarto Bachtiar, suara, 1950 )
A.   Mencari Arti kata sulit
Kekal : abadi
Duka :sedih
Tengadah : melihat keatas/ berdoa/ minta
Merah jambu: sore hari
Melulur : meluncur masuk dengan mudah
Sosok : rupa/ bentuk/ wujud
Angan-angan: pikiran/ ingatan/ cita-cita
Kemayaan: hal keadaan hanya tampaknya ada, tetapi nyatanya tidak ada hanya ada dalam angan-angan atau khayalan.
Menara : bangunan yang tinggi
Katerdal : gereja besar tempat kedudukan resmi
B.   Parafrasa terikat
Setiap kita bertemu dengan gadis kecil berkaleng kecil aku merasa iba padanya
Setiap Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka dalam menghadapi kenyataan hidup
Mereka Tengadah padaku pada bulan merah jambu saat itu
Tapi kotaku jadi hilang, tanpa jiwa kalau gadis kecil berkaleng kecil tidak ada
Rasanya Ingin aku ikut dengan gadis kecil berkaleng kecil itu
Mereka Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok tanpa rasa takut
Mereka Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan yang tak kan pernah ada
Hanya Gembira dari kemayaan riang.
Namun Duniamu yang lebih tinggi dari menara katerdal
Meskipun Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kauhafal
Jiwamu begitu murni, terlalu murni
Untuk dapat membagi dukaku
Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil dunia ini terasa sepi
Bagaikan Bulan di atas itu tak ada yang punya
Dan di kotaku, oh kotaku      
Seperti Hidupnya tak lagi punya tanda
C.   Parafrasa bebas
                         Puisi Gadis kecil berkaleng kecil diatas pengungkapan seorang penyair bahwa Setiap kita bertemu dengan gadis kecil yang membawa kaleng kecil, senyuman mereka terlalu abadi untuk kita kenal, penyair merasa terharu dan sedih jika melihat mereka saat meminta minta pada kita saat waktu sore hari itu, namun jika tidak ada mereka kota ini terasa hilang tanpa jiwa. Ingin rasanya  ikut dengan gadis kecil berkaleng kecil itu, sampai pulang ke bawah jembatan, tubuh mereka meluncur masuk dengan mudah tanpa rasa takut ataupun kesusahan. Mereka hanya bisa berkhayal dari kehidupan yang mewah dengan kegembiraan yang hanya khayalan yang nyatanya tidak ada. Namun mereka derajatnya lebih tinggi dari bangunan yang tinggi. Meskipun mereka selalu berlintas lintas di air kotor yang begitu mereka hafal, jiwa mereka tetap suci dan terlalu suci untuk dapat membagi duka kita. Kalau mereka mati, bagaikan bulan diatas tak ada yang punya, dan kota kita menjadi sepi tanpa kehadiran mereka seperti tiada kehidupan yang berarti.   
Contoh Memparafrasakan puisi
Doa
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
Mengingat kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku
Aku hilang bentuk
Remuk
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling
A.    Mencari Arti kata yang sulit
Termangu : diam
Cayamu : sinar atau cahaya
Suci : bersih
Kerdip : sebentar kelihatan padam, sebentar menyala lagi
Kelam : agak gelap atau kurang terang
Sunyi : sepi
Bentuk : sosok, wujud
Remuk : hancur
Kerdip lilin di dalam kelam sunyi : sesuatu sangat berarti
Aku mengembara di negeri asing : pengakuan penyair akan dosa-dosanya, sehingga ia menjadi ”orang asing” bagi dirinya sendiri.
DipintuMu aku mengetuk, aku tidak bisa berpaling : mengungkapkan tekad bulat penyair yang menyadari bahwa jalan Tuhanlah yang menjadi pilihannya. Ia tidak akan berpaling lagi, apapun yang terjadi.
B.    Menyisipkan kata pada puisi
        Doa
Tuhanku aku mohon ampunanMu
diDalam aku termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biarpun susah sungguh  menghadapi kenyataan hidup
Aku tetap Mengingat kau penuh seluruh
Dengan cayaMu panas suci
meskipun tinggal kerdip lilin di kelam sunyi Engkau sangatlah berarti
Tuhanku yang Maha Esa
Aku seperti hilang bentuk
Terasa Remuk tubuhku
Tuhanku Yang Maha Kuasa
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku Yang Maha Pengampun
Aku mengembara di negeri asing
Tuhanku
Di pintuMu aku mengetuk
Aku tidak bisa berpaling apapun yang terjadi
C.    Parafrasa bebas
                Puisi diatas mengisahkan seseorang yang sedang termangu, ia tetap menyebut nama Tuhannya,  Ia mengingat atas kesalahan dan dosa-dosa yang ia perbuat . Dia berusaha selalu ingat padaNya meskipun susah karena memikirkan urusan dunia.Ia sadar atas kebesaran Tuhan yang penuh cahaya suci, meskipun tinggal kerdip lilin baginya sangatlah berarti.Ia merasa seperti tubuhnya hancur penuh dengan dosa. Ia merasa asing bagi dirinya, Ia bertekad bulat bahwa jalan yang Tuhanlah yang menjadi pilihannya, ia tidak akan berpaling lagi, apa pun yang terjadi.

Cara mengubah/parafrase puisi ke bentuk prosa (beserta contohnya)

Memparafrasekan puisi ke dalam bentuk prosa mungkin sering anda temui dalam mata pelajaran bahasa Indonesia sewaktu SD, SMP dan SMA/sederajat. Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan memparafrasekan puisi kedalam bentuk prosa itu? Memparafrasekan puisi menjadi bentuk prosa adalah mengubah sastra puisi menjadi bentuk sastra prosa. Maksudnya puisi yang tunduk pada aturan puisi diubah menjadi dalam bentuk prosa yang tunduk pada aturan-aturan prosa, namun tanpa merubah makna yang terkandung dalam puisi tersebut.
Memparafrase dalam bentuk prosa memiliki beberapa istilah sendiri yang harus kita pahami. Pertama kita harus tahu apa yang dimaksud dengan memparafrase itu? Memparafrase adalah mengungkapkan kembali dengan metode atau cara yang lain namun tanpa merubah makna. Lalu apa yang dimaksud dengan prosa? Prosa merupakan sebuah karangan bebas yang dibedakan atas puisi, jika puisi terikat oleh keindahan kata maka pada prosa lebih menggunakan kata-kata yang "terus terang" (tidak mementingkan keindahan kata).
Bagaimana cara memparafrasekan sebuah puisi menjadi dalam bentuk porosa? Ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan, yakni sebagai berikut ini:
  1. Pahamilah makna/isi dari puisi yang hendak di parafrase dalam bentuk prosa, caranya dengan membaca/mendengarkan puisi tersebut beberapa kali sampai kamu benar-benar mengerti apa isi puisi tersebut.
  2. Temukan kata-kata yang mungkin merupakan sebuah kata ungkapan atau kata kias dan terjemahkan apa maksud ungkapan/kata kias tersebut. Misalnya dalam puisi tertentu kata "Cinta" digantikan dengan bunga mawar, hal tersebut karena Bunga mawar bisa mengungkapkan kata "Cinta", sedangkan Ungkapan "Bunga melati" Untuk menggantikan kata "suci".
  3. (Hanya bila diperlukan) Tulislah kembali kata-kata yang sengaja dihilangkan oleh sang penyair. Kata-kata tersebut dihilangkan biasanya demi terciptanya suatu keindahan bahasa dalam puisi, meskipun kata-kata tersebut dihilangkan namun tidak merubah makna yang terkandung dalam puisi.
  4. Ubahlah puisi tersebut dalam bentuk prosa. Caranya dengan menceritakan kembali apa yang sudah kamu pahami dari isi puisi tersebut setelah mengerti ungkapan/kiasan yang terkandung didalamnya.

Contoh Puisi dengan Judul Kerinduan
Kerinduan
Dimana aku harus mencari
Belaian hangat diwaktu pagi
Suara sepi yang kini menemani
Kebahagiaan dahulu tak akan pernah kembali
Padamu kasih yang selalu ku nanti
     Namun tak sampai diri ini terdiam
     Hatipun kembali membuka memori pagi
     Kini di senja umur ini
     Ku masih menyimpan rindu
Kini hidup menyayat hati
Membuka memori pagi
Di senja umur ini
Aku akan tetap menanti



Parafrase puisi dengan judul "Kerinduan"

Langkah awal, bacalah puisi tersebut berulang-ulang hingga anda tahu apa makna/isi yang terkandung dalam puisi tersebut.
Kemudian tentukan ungkapan atau mungkin kiasan dalam puisi tersebut. Pada puisi tersebut kata "pagi" menggambarkan masa muda si penyair dahulu, sedangkan kata "senja" menggambarkan masa tua si penyair, dan lain sebagainya.
Tulislah kembali kata-kata yang sengaja dihilangkan oleh sang penyair, pada bagian ini sebenarnya tidak terlalu diperlukan. Intinya jika anda sudah paham betul dengan isi yang terkandung dalam puisi tersebut berarti anda sudah bisa memparafrasekannya secara langsung. Kita lanjut ke bagian memprosakan puisi.
Terakhir mengubah puisi tersebut kedalam bentuk prosa, berikut ini merupakan bentuk prosa dalam puisi diatas:
Hidupku dimasa senja kini berada dalam kesepian, aku tak bisa lagi merasakan belaian hangat yang kurasakan dimasa mudaku bersama kekasihku. Diri ini tak mampu menahan rindu, sebentar saja ingin melupakanmu namun kembali teringat akan masa-masa muda kita bersama. Hati ini terus merasakan rindu, di usia yang telah tua terus menanti engkau kembali.
Mungkin demikianlah yang bisa saya sampaikan, kalau banyak salahnya saya minta maaf. Jika ada manfaatnya itu dari Allah SWT, semoga bermanfaat.
 
 
http://www.miung.com/2013/11/cara-mengubahparafrase-puisi-ke-bentuk.html
 

Pengertian dan jenis-jenis Makna Kata dalam Bahasa

Makna adalah arti atau maksud yang tersimpul dari suatu kata, jadi makna dengan bendanya sangat bertautan dan saling menyatu. Jika suatu kata tidak bisa dihubungkan dengan bendanya, peristiwa atau keadaan tertentu maka kita tidak bisa memperoleh makna dari kata itu (Tjiptadi, 1984:19).

Kata-kata yang bersal dari dasar yang sama sering menjadi sumber kesulitan atau kesalahan berbahasa, maka pilihan dan penggunaannya harus sesuai dengan makna yang terkandung dalam sebuah kata. Agar bahasa yang dipergunakan mudah dipahami, dimengerti, dan tidak salah penafsirannya, dari segi makna yang dapat menumbuhkan resksi dalam pikiran pembaca atau pendengar karena rangsangan aspek bentuk kata tertentu.

Ada beberapa istilah yang berhubungan dengan pengertian makna kata, yakni makna donatif, makna konotatif, makna leksikal, makna gramatikal.


Makna Denotatif

Sebuah kata mengandung kata denotatif, bila kata itu mengacu atau menunjukan pengertian atau makna yang sebenarnya. Kata yang mengandung makna denotative digunakan dalam bahasa ilmiah, karena itu dalam bahasa ilmiah seseorang ingin menyampaikan gagasannya. Agar gagasan yang disampaikantidak menimbulkan tafsiran ganda, ia harus menyampaikan gagasannya dengan kata-kata yang mengandung makna denotative.

Makna denotatif ialah makna dasar, umum, apa adanya, netral tidak mencampuri nilai rasa, dan tidak berupa kiasan Maskurun (1984:10).

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit maka wajar, yang berarti mkna kat ayang sesuai dengan apa adanya, sesuai dengan observasi, hasil pengukuran dan pembatasan (perera, 1991:69).
Makna denotatif didasarkan atas penunjukan yang lugas pada sesuatu diluar bahasa atau didasarkan atas konvensi tertentu (kridalaksana, 1993:40).

Berdasarkan pendapat diatas, maka penulis simpulkan bahwa makna denotative adalah makna yang sebenarnya, umum, apa adanya, tidak mencampuri nilai rasa, dan tidak berupa kiasan. Apabila seseorang mengatakan tangan kanannya sakit, maka yang dimaksudkan adalah tangannya yang sebelah kanan sakit.

Makna Konotatif

Sebuah kata mengandung makna konotatif, bila kata-kata itu mengandung nilai-nilai emosi tertentu. Dalam berbahasa orang tidak hanya mengungkap gagasan, pendapat atau isi pikiran. Tetapi juga mengungkapakan emosi-emosi tertentu. Mungkin saja kata-kata yang dipakai sama, akan tetapi karena adanya kandungan emosi yang dimuatnya menyebabkan kata-kata yang diucapkan mengandung makna konotatif disamping mkna denotatif.

Makna konotatif adalah makna yang berupa kiasan atau yang disertai nilai rasa, tambahan-tambahan sikap sosial, sikap pribadi sikap dari suatu zaman, dan criteria-kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.

Seperti kata kursi, kursi disini bukan lagi tempat duduk, melaikan suatu jabatan atau kedudukan yang ditempati oleh seseorang. Kursi diartikan sebagai tempat duduk mengandung makna lugas atau makna denotatif. Kursi yang diartikan suatu jabatan atau kedudukan yang diperoleh seseorang mengandung makna kiasan atau makna konotatif.

Makna Leksikal

akna Leksikal ialah makna kata seperti yang terdapat dalam kamus, istilah leksikal berasal dari leksikon yang berarti kamus. Makna kata yang sesuai dengan kamus inilah kata yang bermakna leksikal. Misalnya : Batin (hati), Belai (usap), Cela (cacat).

Makna Gramatikal 

Makna gramatikal adalah makna kata yang diperoleh dari hasil perstiwa tata bahasa, istilah gramatikal dari kata grammar yang artinya tata bahasa. Makna gramatikal sebagau hasil peristiwa tata bahasa ini sering disebut juga nosi. Misalnya : Nosi-an pada kata gantungan adalah alat.

Makna Asosiatif

Makna asosiatif mencakup keseluruhan hubungan makna dengan nalar diluar bahasa. Ia berhubungan dengan masyarakat pemakai bahasa, pribadi memakai bahasa, perasaan pemakai bahasa, nilai-nilai masyarakat pemakai bahasa dan perkembangan kata sesuai kehendak pemakai bahasa. Makna asositif dibagi menjadi beberapa macam, seperti makna kolokatif, makna reflektif, makna stilistik, makna afektif, dan makna interpretatif.

1. Makna Kolokatif 

Makna kolokatif lebih berhubungan dengan penempatan makna dalam frase sebuah bahasa. Kata kaya dan miskin terbatas pada kelompok farase. Makna kolokatif adalah makna kata yang ditentukan oleh penggunaannya dalam kalimat. Kata yang bermakna kolokatif memiliki makna yang sebenarnya.

2. Makna Reflektif

Makna reflektif adalah makna yang mengandung satu makna konseptual dengan konseptual yang lain, dan cenderung kepada sesuatu yang bersifat sacral, suci/tabu terlarang, kurang sopan, atau haram serta diperoleh berdasarkan pengalaman pribadi atau pengalaman sejarah.

3. Makna Stilistika

Makna stilistika adalah makna kata yang digunakan berdasarkan keadaan atau situasi dan lingkungan masyarakat pemakai bahasa itu. Sedangkan bahasa itu sendiri merupakan salah satu cirri pembeda utama dari mahluk lain didunia ini. Mengenai bahasa secara tidak langsung akan berbicara mempelajari kosa kata yang terdapat dalam bahasa yang digunakan pada eaktu komunikasi itu.

4. Makna Afektif

Makna ini biasanya dipakai oleh pembicara berdasarkan perasaan yang digunakan dalam berbahasa.

5. Makna interpretatif 

Makna interpretatif adalah makna yang berhubungan dengan penafsiran dan tanggapan dari pembaca atau pendengar, menulis atau berbicara, membaca atau mendengarkan (parera,1991:72).

Daftar Pustaka

  • Kridalaksana. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta : PT Gramedia
  • Maskurun, 1984.  Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta Yudistira.
  • Parera. 1991. Sintaksis. Jakarta. Garamadia Utama.
  • Tjiptadi, Bambang.1984.Tata Bahasa Indonesia. Cetakan II. Jakarta: Yudistira.

Sastra dan genre sastra

Pengertian satra dan genre sastra


Pengertian sastra  tidak hanya satu tetapi dapat berkembang menurut sejarah dan bidang kebudayaan. Sastra dalam arti khusus yang kita gunakan dalam konteks kebudayaan, adalah ekspresi gagasan dan perasaan manusia. Jadi, pengertian sastra sebagai hasil budaya dapat diartikan sebagai bentuk upaya manusia untuk mengungkapkan gagasannya melalui bahasa yang lahir dari perasaan dan pemikirannya. Sastra lahir melalui proses pergulatan sastrawan dengan kondisi sosial-budaya zamannya. Maka, membaca karya sastra hakikatnya membaca keadaan masyarakat dan budaya yang terungkap dalam karya itu. Jadi sastra menyimpan pemikiran sastrawan juga.
Setiap karya sastra selalu muncul dalam karakter jenis sastra (genre sastra) yang dipilih pengarangnya. Wellek dan Werren menyarankan, bahwa genre harus dilihat sebagai pengelompokan karya sastra, yang secara teoritis didasarkan pada bentuk luar (matra atau struktur tertentu) dan pada bentuk dalam (sikap, nada, tujuan, dan yang lebih kasar isi, dan khalayak pembaca) (1990: 306-307). Di samping itu Flower pun berpendapat, jika sastra diorganisasikan secara umum, genre mungkin mempunyai beberapa penerapan taksomonik. Nilai utama genre bukan pada penggolongan. Genre sastra adalah tipe sastra yang memiliki jenis yang khas).
Berdasarkan sifat rekaan, nilai seni, dan penggunaan bahasa khas sastra dibedakan menjadi dua yaitu sastra nonimajinatif dan sastra imajinatif. Kedua genre sastra ini tentunya memiliki perbedaan yang sangat kontras, meskipun keduanya sama-sama memenuhi syarat estetika seni. Sastra nonimajinatif cenderung menggunakan bahasa yang bermakna denotatif dan lebih mengandung unsur faktual, sedangkan sastra imajinatif cenderung menggunakan bahasa yang bermakna konotatif dan lebih mengandung sifat khayali yang tinggi/bersifat imajinatif. Sastra imajinatif memiliki daya fiksionalitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan sastra nonimajinatif.
·        Sastra Nonimajinatif terdiri dari:
1.     Esei : Karangan pendek tentang fakta yang diuraikan menurut pandangan pribadi penulisnya dengan gaya yang akrab, bersahabat, dan familiar. Terdapat beberapa macam esai yaitu:
Ø Esei Formal; cenderung menggunakan bahasa yang lugas, mengikuti aturan penulisan, serta mementingkan pemikiran dan kedalaman analisis.
Ø Esei Personal; cenderung bergaya bahasa lebih bebas, memiliki keleluasaan unsur pemikiran dan perasaan, serta unsur pribadi dalam diri penulis mudah dilihat.
Ø Esei Deskripsi; menggambarkan fakta apa adanya tanpa penjelasan dan penafsiran fakta (memotret, melaporkan).
Ø Esei Ekspresi; menggambarkan fakta dengan menjelaskan rangkaian sebab-akibat, kegunaan,dll.
Ø Esei Argumentasi; menunjukkan fakta, memunculkan persoalan, melakukan analisis, dan menarik kesimpulan.
Ø Esei Narasi; menggambarkan fakta berdasar urutan spasial dan kronologis dalam bentuk cerita.
2.     Kritik : Menilai karya seni, sastra dengan menunjukkan kelebihan dan kekurangan serta menawarkan alternatif penyelesaiannya.
3.     Biografi : Cerita yang berisi kehidupan seseorang yang ditulis oleh orang lain.
4.     Otobiografi : Biografi yang telah ditulis oleh tokohnya atau orang lain atas penuturan dan sepengetahuan tokohnya.
5.     Sejarah : Cerita tentang sesuatu yang dipandang dari konteks zaman atau babakan zaman yang didasarkan atas sumber tertulis maupun tidak tertulis.
6.     Memoar : Karya yang memiliki kemiripan dengan otobiografi, namun membatasi daripada sepenggal perjalanan tokohnya.
7.     Catatan Harian : Catatan yang ditulis seseorang tentang diri atau lingkungannya yang menarik dan berkesan menurutnya.   
 
·        Sastra Imajinatif terduri dari:        
1.     Prosa Fiksi : Cerita rekaan yang berdasarkan dari fakta dan realitas. Prosa fiksi ini terdiri atas;
a.     Cerita Pendek (Cerpen) : Prosa yang relatif pendek.
b.     Novelet : Bentuk prosa yang panjangnya antara cerpen dan novel.
c.      Novel/roman : Cerita dalam bentuk prosa fiksi dalam ukuran yang luas. novel/roman ini terdiri atas;
a)     Novel Percintaan : Novel yang melibatkan peranan tokoh wanita dan pria secara seimbang, tetapi terkadang wanita lebih dominan.
b)    Novel Petualangan : Novel yang melibatkan banyak masalah dunia laki-laki.
c)     Novel Fantasi : Novel yang bercerita tentang hal-hal yang tidak realistis dan tidak logis serta serba tidak mungkin dilihat dari pengalaman sehari-hari.
2.     Drama : Karya sastra yang mengungkapkan cerita melalui dialog para tokoh.
3.     Puisi : Jenis sastra imajinatif yang mengutamakan unsur fiksionalitas, nilai seni, dan rekayasa bahasa.puisi ini terdiri dari:
a.     Puisi Epik : Puisi yang disampaikan oleh penyair dalam bentuk sebuah cerita.
b.     Puisi Lirik : Puisi yang lebih menyuarakan pikiran dan perasaan pribadi penyair. Puisi   lirik ini terdiri atas:
a)     Puisi Afektif; menekankan pentingnya mempengaruhi perasaan pembaca.
b)    Puisi Kognitif; menekankan isi gagasan penyair.
c)     Puisi Ekspresif; menonjolkan ekspresi pribadi penyair.
d)    Elegi; berisi ratapan kematian terutama pada sosok yang dikagumi atau dicintai penyairnya.
4.     Hymne; berisi pemujaan kepada sesuatu yang lebih besar dan berarti bagi sang penyair.
5.     Ode; berisi pujaan terhadap seorang pahlawan atau tokoh yang dikagumi penyair.
6.     Epigram; berisi ajaran kehidupan yang bersifat mennurui serta berbentuk pendek dan bergaya ironi.
7.     Sajak Humor; berisi hiburan baik dalam isi maupun teknik sajaknya.
8.     Pastoral; berisi gambaran kehidupan kaum gembala atau petani di sawah.
9.     Idyl; berisi nyanyian tentang kehidupan pedesaan, perbukitan, dan padang-padang.
10.            Satire; berisi ejekan dengan maksud memberi kritik.
11.            Parodi; berisi ejekan yang ditujukan pada karya seni tertentu.
12.            Puisi Dramatik : Puisi yang berisi analisis watak seseorang baik yang bersifat historis, mitos, atau fiktif ciptaan seorang penyair.

PANTUN/PUISI


 
 

mereka dengan TUHANnya
(Watu Wungkuk, 7 Maret 2004)

mereka…
kulihat mereka…
mereka menangis dalam shalatnya…
mereka menangis dalam do’anya…
mereka menangis dalam dzikirnya..

mereka tahu siapa dirinya
ketika mereka tahu siapa Tuhannya
ketika mereka tunduk menjatuhkan kening mereka
serata lantai dengan telapak kakinya
sujud tubuhnya
sujud hatinya
sujud jiwanya
sujud ke-aku-annya
mereka tahu kerendahannya
mereka tahu kekecilannya
mereka tahu kekerdilannya
mereka tahu kehinaanya
mereka tahu ketiadaan dirinnya

mereka menyebut-nyebut nama Tuhannya
Tuhannya berkata..
Aku yang punya nama
Aku datang

Ketika Tuhannya hadir
Dengan kebesaranNya

betapa takutnya mereka
Ancaman Tuhannya
Siksa Tuhannya
Azab Tuhannya
Neraka Tuhannya

betapa gembiranya mereka
ni’mat Tuhannya
karunia Tuhannya
rahmat Tuhannya
Syurga Tuhannya

betapa cintanya mereka
ketika mereka tahu
Tuhannya mengasihi mereka
Tuhannya menyayangi mereka
Tuhannya mencintai mereka

Maka
Ni’mat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Wahai jiwa yang tenang
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai
Maka masuklah dalam golongan hamba-hambaKu
Dan masuklah ke dalam syurgaKu


sebutir debu..


PANTUN HAKEKAT MAULANA SAIDI SYEKH MUHAMMAD HASYIM AL-KHALIDI Q.S

(Maulana Lahir Tahun 1863 di Padang, merupakan seorang Wali Qutub yang membawa Thareqat Naqsyabandi dari Jabbal Qubais Mekkah, berpulang kerahmatullah pada hari rabu, tgl 07 April 1954 jam 13.05 siang dalam usia 87 tahun, dan dimakamkan di Buayan Lubuk Alung Sumatra barat)
Mengenai peramalan dari Dzikrullah menurut Beliau harus diamalkan secara berkesinambungan sesuai syairnya:

Kalau ingin tahu diparak ganting
Lihatlah dari guguk pelana
Kalau ingin tahu dilemaknya emping
Kunyalah dahulu lama-lama

Agar Tuhan dengan kita harus di upayakan dengan amal yang sungguh-sungguh, sehingga lebih dekat dengan urat leher kita sendiri, seperti Fatwanya:

Payah-payah mencari bilah
Bilah ada di dalam buluh
Payah-payah mencari Allah
Allah sangat dekat dengan tubuh
Cintanya kepada Allah, Rasul dan Guru dikiaskannya dalam pantunnya :

Guruh petir menuba limbat
Pandan serumpun di seberang
Tujuh ratus carikan obat
Badan bertemu maka senang

Dendang dua dendang tiga
Pecah periuk pembuat rendang
Biar makan biar tidak
Asal duduk berpandangan
Baginya menguasai ilmu metafisik bukan tujuan, tdk ada artinya metafisik tanpa Allah,tujuannya adalah “ ilahi anta makasudi waridhoka matlubi “ dan bagi orang
Yg beserta Allah tdk akan dpt dicederai dgn ilmu metafisik jenis apa pun,
Sesuai kias Beliau :

Pucuk sijali si jalintas
Pucuk sijali si jali muda
Dilangit tuan melintas
Kami dibalik itu pula
Segala derita diseluruh dimensi alam adalah masalah, dan segala masalah hanya dapat diatasi dgn dimensi yg dapat mengatasi masalah,Menegembalikan semua masalah pada dimensi absolute dgn teknik tertentu yaitu Allah SWT secara realita ( bukan khayalita ) membuat masalah akan selesai,denegan memberi hikmah kepada siapa saja yg terlibat dalam masalah tsb, seperti petuah Beliau:

Padi pulut tiga tangkai
Dibawa orang indrapura
Dunia kusut akan selesai
Ujung dan pangkal telah bersua









ZIARAH
Dalam lembah yang penuh nista
Saat kegelapan menutupi hati
Kulihat secercah cahaya MU
Laksana kerlipan bintang di gelap gulita


Kulangkahkan kaki dari lembah berlumpur ini
Kudatangi Mu wahai pemilik KASIH
Kubersimpuh dikaki MU mengharapkan ampunan
Atas dosa dan noda

Kudatangi Mu karena aku rindu
Rindu akan arif bijak MU
Rindu akan tegur sapa MU
Rindu saat terindah yang pernah kumiliki dalam hidup
Saat aku bersama MU
(Kerinci, 5 Nov ’04)


TAK KUSESALI

 
Kalau kutahu diri ini tak mampu
Tak akan kulewati sejuta onak dan seribu kepedihan
Tak akan kuselami samudra yang tak berhingga dalamnya
Tak akan kudaki puncak yang tak terukur tingginya
Tapi kutak tahu dan aku terlalu bodoh
Untuk mengerti semua ini
Ada perlombaan berat tuk menggapai sebuah keagungan
Ada ribuan nyawa melayang dan berkeping hati terbakar oleh cinta
 
Melanjutkan pengembaraan tak berujung ini
Cinta MU telah merasuk dalam sukma dan membakar seluruh tubuhku
Tuk terus bergerak merangkak
Sehingga tak terasa apapun selain kerinduan padaMU
 
Kalau kutahu ENGKAU terlalu agung tuk kucintai
Tentu tak kulewati jalan tak berujung ini
Tak ku berhasrat memiliki semua angan indah kepada MU
Tapi engkau telah tambatkan hati lemah ini kepada cinta suciMU
Hingga aku tak bisa berpaling lagi dari MU
 
 Walaupun badaikan menghadang dan sejuta kepedihan mengiringi hidup
Tak kusesali…karena ENGKAU telah memberikan segalanya padaku
Segala kebahagiaan yang tak pernah kugapai sepanjang hidupku
(Simeulu, Nov 2004)
 
 
 

BERSAMA MU
 TUHAN….
Dalam setiap nafas yang ku hirup
Tetesan air yang ku minum
Semua ada nama MU
Yang membuat aku semakin rindu
Seluruh alam ini memuja MU
Semua yang kau ciptakan ada tertulis nama indah MU

TUHAN….
Tak bisa ku ungkapkan betapa rindu aku pada MU
Sangat dalam dan dalam….
Semakin hari aku tak bisa berpaling dari MU
Walau Cuma sesaat…

TUHAN…
Janganlah ENGKAU berikan nikmat
Yang tidak bisa aku mensyukurinya
Hingga ENGKAU kecewa padaku
Berilah aku kesempatan untuk membuktikan cintaku ini pada MU
Dengan terus mengabdi pada MU
Sepanjang hidupku
 (Meulaboh, 24 November 2004)

'33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh'

Berikut 33 tokoh sastra tersebut:

1. Kwee Tek Hoay
2. Marah Roesli
3. Muhammad Yamin
4. HAMKA
5. Armijn Pane
6. Sutan Takdir Alisjahbana
7. Achdiat Karta Mihardja
8. Amir Hamzah
9. Trisno Sumardjo
10. H.B. Jassin
11. Idrus
12. Mochtar Lubis
13. Chairil Anwar
14. Pramoedya Ananta Toer
15. Iwan Simatupang
16. Ajip Rosidi
17. Taufik Ismail
18. Rendra
19. NH. Dini
20. Sapardi Djoko Damono
21. Arief Budiman
22. Arifin C. Noor
23. Sutardji Calzoum Bachri
24. Goenawan Mohammad
25. Putu wijaya
26. Remy Sylado
27. Abdul Hadi W.M.
28. Emha Ainun Nadjib
29. Afrizal Malna
30. Denny JA
31. Wowok Hesti Prabowo
32. Ayu Utami
33. Helvi Tiana Rosa

Meneriaki Pohon ala Pulau Solomon dengan Teriakan “Bodoh” Guru pada Siswa

http://mahirbelajar.files.wordpress.com/2013/02/solomon.jpgPohon memiliki “ruh” meskipun dia tidak merasakan sakit karena tidak memiliki sistem syaraf. Begitupun manusia yang memiliki ruh, hati, dan pikiran. Adalah sebuah kebiasaan yang ditemukan di sekitar penduduk kepulauan Solomon, yang terletak di Pasifik Selatan yaitu meneriaki pohon. Hal demikian biasa dilakukan ketika mereka menemukan pohon yang sangat besar dan berakar kuat. Ketika mereka kesulitan untuk menebang pohon tersebut dengan cara biasa. Oleh karena itu, mereka melakukan cara yang menurut mereka tidak pernah gagal, yaitu dengan meneriaki pohon tersebut. Beberapa penduduk yang lebih kuat dan berani akan memanjat ke atas pohon tsb. Kemudian mereka akan berteriak sekuat tenaga pada pohon itu. Mereka lakukan berjam-jam lamanya selama berpuluh-puluh hari dan hasilnya pohon itu lama-lama akan menggugurkan daunnya, layu, dan akhirnya mati.
Filosofi membuat pohon mati dengan meneriakinya  ala pulau solomon ini dapat juga terjadi pada seorang guru yang terlalu biasa meneriaki siswanya dengan kata-kata “BODOH”, “LEMOT”, “IDIOT”, dan lain-lain. Siswa kita memiliki hati dan pikiran yang mana ketika dia mendapatkan ejekan dan teriakan negatif, maka hati dan pikiran akan meresponnya. Mereka lambat laun akan memposisikan diri pada apa yang biasa dia dengarkan. Mereka akan menjdai minder, kurang termotivasi, dan merasa dirinya tidak bisa melakukan hal apapun. Hal ini akan membunuh kreativitasnya, bahkan mimpi-mimpinya.
Every child is SPECIAL. Setiap anak terlahir dengan bakat dan kemampuan masing-masing. Tugas guru adalah memukan bakat mereka dan kembangkan potensi mereka. Arahkan dan motivasi mereka untuk meraih mimpi-mimpinya. Schunk (2012) menyatakan bahwa siswa yang merasa percaya diri untuk belajar dan berkinerja baik di sekolah mencari tantangan, berusaha memelajari materi baru, dan bersikap gigih pada tugas yang sulit. Siswa yang termotivasi belajar cenderung mengeluarkan lebih banyak usaha mental selama berlangsungnya aktivitas belajar-mengajar dan  menggunakan berbagai strategi kognitif yang diyakininya akan meningkatkan pemelajaran: mengorganisasikan dan menghafal informasi, memotivator level pemahaman dan mengaitkan materi baru dengan pengetahuan sebelumnya (Pintrich, 2003; Pintrich&De Groot, 1990 dalam Schunk, 2012).
Sumber:
Schunk, DH. Pintrich, PR. Meece, JL. 2012. Motivasi dalam Pendidikan; Teori, Penelitian, dan Motivasi. Jakarta: PT. Indeks