Bahasa Gaul, slang, dan
Prokem
1. Bahasa Gaul
Di dalam suatu masyarakat terdapat dua klasifikasi situasi
pemakaian bahasa:
a. Situasi resmi atau formal, pada situasi ini
seseorang dituntut untuk menggunakan bahasa baku, yang disebabkan oleh situasi
resmi, misalnya: pada acara seminar, pidato kenegaraan bagi kepala Negara,
dalam acara rapat, dan lain sebagainya.
b. Situasi tidak resmi atau informal, pemakaian
bahasa tidak resmi di pengaruhi oleh situasi tidak resmi. Kuantitas pemakaian bahasa ini
banyak tergantung pada tingkat keakraban pelaku yang terlibat dalam komunikasi,
pada bahasa tidak resmi bahasa baku di kesampingkan dan tidak lagi
memperhatikan kaidah-kaidah bahasa akan tetapi yang diprioritaskan adalah
antara pemakai bahasa dan yang lawan bicaranya bisa saling mengerti. Situasi
pemakaian bahasa ini digunakan misalnya, pada komunikasi remaja di sebuah mal,
interaksi penjual dan pembeli, dan lain-lain. Dari ragam tidak resmi tersebut,
selanjutnya memunculkan istilah yang disebut dengan istilah bahasa gaul.
Saat
ini bahasa gaul telah banyak terasimilasi dan menjadi umum. Bahasa gaul sering
digunakan sebagai bentuk percakapan sehari-hari dalam pergaulan di lingkungan
sosial bahkan dalam media-media populer serperti TV, radio, dunia perfilman
nasional, dan digunakan sebagai publikasi yang ditujukan untuk kalangan remaja
oleh majalah-majalah remaja populer. Oleh sebab itu, bahasa gaul dapat
disimpulkan sebagai bahasa utama yang digunakan untuk komunikasi verbal oleh
setiap orang dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh:
Bahasa
Indonesia
|
Bahasa
Gaul (informal)
|
Aku, Saya
|
Gue
|
Kamu
|
Elo
|
Di masa depan
|
kapan-kapan
|
Apakah benar?
|
Emangnya bener?
|
Tidak
|
Gak
|
Tidak Peduli
|
Emang gue pikirin!
|
Sejarah Bahasa Gaul
Bahasa
gaul sebenarnya sudah ada sejak tahun 1970-an. Awalnya istilah-istilah dalam
bahasa gaul itu digunakan untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas
tertentu. Tapi karena intensitas pemakaian tinggi, maka istilah-istilah
tersebut menjadi bahasa sehari-hari.
Hal
ini sejalan dengan halaman Wilimedia Ensiklopedi Indonesia (2006), yang
menyatakan bahwa bahasa gaul merupakan salah satu cabang dari bahasa Indonesia
sebagai bahasa untuk pergaulan. Istilah ini mulai muncul pada akhir ahun
1980-an.
Dalam
sebuah milis (2006) disebutkan bahwa bahasa gaul memiliki sejarah sebelum
penggunaannya populer seperti sekarang ini. Sebagai bahan teori, berikut adalah
sejarah kata bahasa gaul tersebut:
1). Nih Yee…
Ucapan
ini terkenal di tahun 1980-an, tepatnya November 1985. pertama kali yang
mengucapkan kata tersebut adalah seorang pelawak bernama Diran. Selanjutnya
dijadikan bahan lelucon oleh Euis Darliah dan popular hingga saat ini.
2) Memble dan Kece
Dalam
milis tersebut dinyatakan bahwa kata memble dan kece merupakan
kata-kata ciptaan khas Jaja Mihardja. Pada tahun 1986, muncul sebuah film
berjudul Memble tapi Kece yang diperankan oleh Jaja Mihardja ditemani
oleh Dorce Gamalama.
3) Booo….
Kata
ini popular pada pertengahan awal 1990-an. Penutur pertama kata Boo…adalah
grup GSP yang beranggotakan Hennyta Tarigan dan Rina Gunawan. Kemudian
kata-kata dilanjutkan oleh Lenong Rumpi dan menjadi popular di lingkungan
pergaulan kalangan artis. Salah seorang artis bernama Titi DJ kemudian disebut
sebagai artis yang benar-benar mempopulerkan kata ini.
4) Nek…
Setelah
kata Boo… popular, tak lama kemudian muncul kata-kata Nek... yang
dipopulerkan anak-anak SMA di pertengahan 90-an. Kata Nek… pertama kali
di ucapkan oleh Budi Hartadi seorang remaja di kawasan kebayoran yang tinggal
bersama neneknya. Oleh karena itu, lelaki yang latah tersebut sering mengucapkan kata Nek…
5) Jayus
Di
akhir dekade 90-an dan di awal abad 21, ucapan jayus sangat popular.
Kata ini dapat berarti sebagai ‘lawakan yang tidak lucu’, atau ‘tingkah laku
yang disengaca untuk menarik perhatian, tetapi justru membosankan’. Kelompok
yang pertama kali mengucapkan kata ini adalah kelompok anak SMU yang bergaul di
kitaran Kemang.
Asal
mula kata ini dari Herman Setiabudhi. Dirinya dipanggil oleh teman-temannya
Jayus. Hal ini karena ayahnya bernama Jayus Kelana, seorang pelukis di kawasan
Blok M. Herman atau Jayus selalu melakukan hal-hal yang aneh-aneh dengan maksud
mencari perhatian, tetapi justru menjadikan bosan teman-temannya. Salah satu
temannya bernama Sonny Hassan atau Oni
Acan sering memberi komentar jayus kepada Herman. Ucapan Oni Acan inilah
yang kemudian diikuti teman-temannya di daerah Sajam, Kemang lalu kemudian merambat
populer di lingkungan anak-anak SMU sekitar.
6. Jaim
Ucapan
jaim ini di populerkan oleh Bapak Drs. Sutoko Purwosasmito, seorang
pejabat di sebuah departemen, yang selalu mengucapkan kepada anak buahnya untuk
menjaga tingkah laku atau menjaga image gitu.
7. Gitu Loh…(GL)
Kata
GL pertama kali diucapin oleh Gina Natasha seorang remaja SMP di kawasan
Kebayoran. Gina mempunyai seorang kakak
bernama Ronny Baskara seorang pekerja event organizer. Sedangkan Ronny punya
teman kantor bernama Siska Utami. Suatu hari Siska bertandang ke rumah Ronny.
Ketika dia bertemu Gina, Siska bertanya dimana kakaknya, lantas Gina ngejawab
di kamar, Gitu Loh. Esoknya si Siska di kantor ikut-ikutan latah dia ngucapin
kata Gitu Loh…di tiap akhir pembicaraan.
Contoh
Bahasa Gaul
1. ALAY :
Singkatan dari
Anak Layangan, yaitu orang-orang kampung yang bergaya norak. Alay sering
diidentikkan dengan hal-hal yang norak dan narsis.
2. KOOL :
Sekilas cara membacanya sama dengan “cool” (keren), padahal kata ini
merupakan singkatan dari KOalitas Orang Lowclass, yang artinya mirip dengan
Alay.
3. LEBAY :
Merupakan hiperbol dan singkatan dari kata “berlebihan”. Kata ini populer
di tahun 2006an. Kalo tidak salah Ruben Onsu atau Olga yang mempopulerkan kata
ini di berbagai kesempatan di acara-acara di televisi yg mereka bawakan, dan
biasanya digunakan untuk “mencela” orang yang berpenampilan norak.
4. JAYUS :
Saya tadinya mengira kata ini merupakan singkatan, namun setelah saya
telusuri, ternyata bukan. Arti sebenarnya adalah lawakan atau tingkah laku yang
maunya melucu tapi tidak lucu.
Istilah Jayus
populer di tahun 90an dan masih sesekali digunakan di masa kini. Dari cerita
mulut ke mulut, konon ada seorang anak di daerah Kemang bernama Herman
Setiabudhi yang kerap dipanggil Jayus oleh teman2nya. Jayus sendiri adalah nama
ayah dari Herman (lengkapnya Jayus Kelana) yang seorang elukis di kawasan Blok
M. Herman alias Jayus terkenal sebagai anak yang sering melawak tapi lawakannya
kerap kali tidak lucu.
5. GARING :
Kata ini
merupakan kata dari bahasa Sunda yang berarti “tidak lucu”. Awalnya kata-kata
ini hanya digunakan di Jawa Barat saja. Namun karena banyaknya mahasiswa luar
pulau yang kuliah di Jawa Barat (Bandung) lalu kembali ke kota kelahiran
mereka, kata ini kemudian dipakai mereka dalam beberapa kesempatan. Karena seringnya
digunakan dalam pembicaraan, akhirnya kata ini pun menjadi populer di beberapa
kota besar di luar Jawa Barat.
6. BONYOK :
Kata ini merupakan singkatan dari Bokap-Nyokap (orang tua). Tidak jelas
siapa yang mempopulerkan kata ini, tapi kata ini mulai sering digunakan
diperiode awal 2000an, ketika bahasa sms mulai populer di kalangan remaja.
Bokap (Ayah) dan Nyokap (Ibu) sendiri
merupakan istilah yang telah populer sejak tahun 80an dan masih digunakan
hingga hari ini.
7. LOL :
Kata ini belakangan ini sering dipakai, terutama dalam komunikasi chatting,
baik di YM, FB, Twitter, atau pun komunitas yang lain. Kata itu merupakan
singkatan dari Laugh Out Loud yang berarti “Tertawa Terbahak-bahak”.
8. GUE :
Adalah bahasa “resmi” yang kini banyak digunakan oleh kebanyakan orang
(terutama orang dari Suku Betawi) untuk menyebut “Saya / Aku”. Kata ini
merupakan bahasa Betawi yang telah digunakan secara luas, jauh sebelum bahasa
prokem dikenal orang.
9. LO / LU :
Sama seperti “Gue” kata ini pun sudah digunakan digunakan oleh Suku Betawi
sejak bertahun-tahun lalu dan menjadi kata untuk menyebut “Anda / Kamu”
Bahasa sehari – hari berikut ini juga termasuk bahasa gaul,
namun sudah sering dipakai dalam keseharian masyarakat Indonesia, sehingga
masyarakat terkadang kurang sadar bahwa bahasa berikut termasuk bahasa gaul /
prokem:
Penyengauan kata kerja aktif, pemendekan atau
pengguguran awalan dan membubuhkan -in'
di akhir kata :
1. memikirkan (pikir) – mikirin
2. menanyakan - nanyain
(pengguguran "me-")
Membubuh -in di akhir kata kerja transitif
pasif :
1. diajari - diajarin
2. dipukuli – dipukulin
Membubuh ke- di awal kata kerja tidak
transitif, menggantikan ter- :
1. tertangkap - ketangkep
2. terpeleset (tergelincir) - kepeleset
Menggugurkan
satu atau beberapa huruf dari kata :
1. habis - abis
2. tahu - tau
Menyingkatkan
dua atau lebih perkataan menjadi satu :
1. terima kasih - makasih
2. jaga image (jaga maruah diri) – jaim
Menggantikan a dengan e
dalam setengah kata (pengaruh Jawa) :
1.
benar - bener
2.
pintar - pinter
3.
malas - males
Menyingkatkan
diftong menjadi
huruf eka-suku :
1. kalau - kalo
2. pakai - paké
Pembubuhan
/ pengguguran konsonan bisu dan hentian glotis pada awal atau akhir kata:
1. pakai - paké atau pakék
2. enggak - nggak, ngga, gak, ga, kaga, ogah, wegah
Menyingkat
menjadi tiga huruf pertama sampil menyisip -ok- selepas huruf pertama (berakhir
dengan konsonan terdekat jika huruf ketiga adalah vokal) :
1. bapak - bokap
2. jual - jokul
3. bérak - Bokér
Setengah
perkataan dipinjam dan disesuaikan begitu saja dari bahasa Inggris kebahasa
Indonesia, contoh :
1. sorry - sori
2. friend - prén
3. swear - suer
4. brother - bruer atau bro
5. sister - suez atau sis
2. Bahasa Slang
Slang adalah ragam bahasa tidak resmi dan tidak baku yang sifatnya
musiman dipakai oleh kelompok sosial tertentu untuk konsumsi intern, dengan
maksud agar yang bukan anggota kelompok tidak mengerti
Slang
digunakan sebagai bahasa pergaulan. Kosakata slang dapat berupa pemendekan
kata, penggunaan kata alam diberi arti baru atau kosakata yang serba baru dan
berubah-ubah. Disamping itu slang juga dapat berupa pembalikan tata bunyi,
kosakata yang lazim diapakai di masyarakat menjadi aneh, lucu, bahkan ada yang
berbeda makna sebenarnya. Dan slang di ciptakan oleh perubahan bentuk pesan
linguistik tanpa mengubah isinya untuk maksud penyembunyian atau kejenakaan.
Jadi, slang bukanlah bahasa yang selayaknya di gunakan melainkan hanya
transformasi parsial sebagian dari suatu bahasa menurut pola-pola tertentu.
Contoh
bahasa slang banyak ditemukan di kepulauan Indonesia meskipun perkembangan
sejarah slang ini boleh dikatakan tidak diketahui, yang jelas di Indonesia,
seperti dihampir setiap Negara di dunia, kelompok masyarakat telah menciptakan
dan mengembangkan pola kebahasaan mereka sendiri yang berbeda. Gejala ini
mencakup bahasa permainan di antara anak-anak sekolah dan di berbagai
lingkungan serta kalangan, bahasa ini mungkin memiliki fungsi yang agak kocak
atau rahasia, tetapi semua cenderung mengasingkan kelompok dan membedakannya
dari masyarakat yang lebih luas. (misalnya: kata bahasa Indonesia “mobil” dapat
di ubah wujudnya menjadi bo’il, bolim, demobs, atau kosmob) atau artinya
(misalnya: kuda, kebo, bebek, gerobak, dokar, dan akuarium. Semua berarti
“mobil”).
Sejarah Bahasa Slang
Pada
mulanya pembentukan bahasa slang, di dunia ini adalah berawal dari sebuah
komunitas atau kelompok sosial tertentu yang berada di kelas atau golongan
bawah. Lambat laun oleh masyarakat akhirnya bahasa tersebut digunakan untuk
komunikasi sehari-hari.
3. Bahasa Prokem
Seandainya
pertanyaan ini kita kemukakan kepada warga masyarakat yang tidak memahami
bahasa prokem ini sama sekali, sebagian besar akan menjawab bahwa bahasa prokem
itu adalah bahasa yang hanya dipakai para pemuda, remaja yang digunakan seenak
dan tidak dapat dipahami masyarakat umum. Bila pertanyaan ini kita kemukakan
kepada para remaja dan orang muda lainnya yang paham akan bahasa prokem ini,
jawaban yang akan diperoleh ternyata bervariasi.
Ada
yang mengatakan bahwa bahasa prokem adalah bahasa yang digunakan untuk mencari
dan menunjukkan identitas diri; bahasa
yang dapat merahasiakan pembicaraan mereka dari kelompok yang lain. Ada
pula yang menyatakan bahasa prokem itu adalah bahasa yang diolah kembali agar
pembicaraaan mereka ini tidak dipahami orang tua ataupun guru-guru yang sering
melarang mereka sebelum sempat melakukan sesuatu.
Bahasa prokem ini sejenis ragam bahasa khas yang boleh disebut sebagai jenis
bahasa rahasia yang hanya digunakan kelompok tertentu saja untuk berkomunikasi
dengan warga masyarakat yang bukan anggota kelompok mereka.
Bahasa
prokem itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan latar belakang sosial budaya
pemakainya. Tumbuhkembang bahasa seperti itu selanjutnya disebut sebagai
perilaku bahasa dan bersifat universal. Artinya bahasa-bahasa seperti itu akan
ada pada kurun waktu tertentu (temporal) dan di dunia manapun sifatnya akan
sama (universal).
Prokem
menjadi mode kaum muda ibukota, Jakarta. Kerumitannya menarik dari sudut
pandang ilmu bahasa. Tanda keinginan kaum muda untuk menegaskan dirinya sebagai
kelompok masyarakat mandiri, berbeda dengan angkatan orang tuanya. Dan
bagaimanapun dekat dengan dunia gelap pengedar NAZA (narkotik dan zat-zat
adiktif) dan penjahat. Ini merupakan gejala sosial yang sangat menarik.
Sejarah
Bahasa Prokem
Tidak
ada orang yang dapat menjelaskan secara tepat bagaimana wujud bahasa prokem pada waktu timbul pertama. Namun
mengingat bahwa nama bahasa ini disebut “bahasa prokem”, penulis mengambil
kesimpulan bahwa bentuk olahan awal bahasa ini adalah penyisipan-ok-, antara
lain seperti yang terlihat pada nama bahasa itu : ‘prokeman’, lalu mengalami
gejala apokot dengan lenyapnya bunyi akhir menjadi prokem. Kalau kita
perhatikan kosakata bahasa prokem sampai pertengahan dekade 1980, tampak bahwa
sebagian kata-katanya diolah dengan memberi sisipan –ok-. Apakah cara ini saja
yang digunakan pada saat awal timbulnya, tidaklah dapat dipastikan. Namun dari
data tertulis dapat disimpulkan bahwa kosakata yang diolah dengan cara ini
merupakan salah satu rumus yang memegang peranan yang sangat penting, melihat
besarnya kosakata seperti ini disekitar 30 %. Di samping penyisipan –ok-,
kosakata bahasa prokem pun banyak mengalami gejala metatesis (pembalikan urutan
penulisan huruf). Gejala ini sudah dikenal lama sekali ia sudah tampak sekitar
30 tahun yang lalu. Namun yang patut dicatat adalah bahwa pembalikan
unsur-unsur kata yang diolah itupun mempunyai beberapa bentuk yang berbeda.
Beberapa perbedaan di antaranya masih dapat kita lihat dari kosakata yang
tampak dari sejumlah data yang tertulis, seperti dalam
kibin’bikin’,depek’pendek’, maya’ayam’, dan baak’asbak.
Contoh
Bahasa Alay & Bahasa Banci Salon
Bahasa Alay, atau yang biasa disebut sebagai bahasa “anak layangan“,
merupakan bahasa anak muda masa kini. Sebenarnya penggunaan kata anak muda
dirasa kurang pas, karena penggunaan bahasa alay ini marak dipopulerkan oleh
anak-anak ABG (anak baru gede) seumuran SMP, maupun SMU.
Contoh:
* Gue : W, Wa, Q, Qu, G
* Aku : Akyu, Akuwh, Akku, q.
* Lo/kamu : U
* Rumah : Humz, Hozz
* Aja : Ja, Ajj (Ajj bacanya apa ya?)
* Yang : Iank/Iang, Eank/Eang (ada juga yang iiank/iiang)
* Tuh : Tuwh, Tuch
* Deh : Dech, Deyh
* Sempat : S4
* Lucu : Luthu, Uchul, Luchuw
* Khusus : Khuzuz
* Kalian : Klianz
* Belum : Lom, Lum
* Cape : Cppe, Cpeg
* Kan : Khan, Kant, Kanz
* Manis : Maniezt, Manies
* Cakep : Ckepp
* Keren : Krenz, Krent
* Dulu : Duluw (Dulux aja biar bisa ngecat rumah)
* Chat : C8
* Tempat : T4
* Add : Et, Ett (biasanya minta di add friendsternya)
* Banget : Bangedh, Beud, Beut (sekalian aja baut sama obeng)
* Telepon : Tilp
* Ini : Iniyh, Nc
* Boleh : Leh
* Baru : Ru
* Ya/Iya : Yupz, Ia, Iupz
* Kok : KoQ, KuQ, Kog, Kug
* Nih : Niyh, Niech, Nieyh
* Ketawa : wkwkwk, xixixi, haghaghag, w.k.k.k.k.k., wkowkowkwo
* Nggak : Gga, Gax, Gag, Gz
* Hai : Ui (Apa Ui? Universitas Indonesia?)
* SMS : ZMZ, XMX, MZ (oh god…)
* Mengeluh : Hufft
* Kurang : Krang, Krank (Crank?)
* Tau : Taw, Tawh, Tw
* Maaf : Mu’uv, Muupz, Muuv
* Sorry : Cowwyy, Sowry
* Siapa : Sppa, Cppa, Cpa, Spa
Kata BENCONG itu dibentuk dari kata BANCI yang disisipi bunyi dan ditambah
akhiran ONG. Huruf vokal pada suku kata pertama diganti dengan huruf E. Huruf
vokal pada suku kata kedua diganti dengan ONG.
Misalnya:
Makan - mekong
Sakit - sekong
Laki - lekong
Lesbi - lesbong
Mana - menong
Ada juga waria/bences yang kemudian ngeganti tambahan ONG dengan ES sehingga
bentuk katanya menjadi:
Banci - bences
Laki - lekes
Dan ini masih lanjutan contoh untuk bahasa Banci..:
Akika = Aku
Begindang = Begitu
Belalang = Beli
Belenjong = Belanja
Beranak Dalam Kubur = Berak
Cacamarica = Cari
Cucok = Cocok
Cumi = Cium
Capcus = Pergi
Diana = Dia
Endaaaaaaaaaang = Enak
Eike = Aku
Ember = Emang
Gilingan = G1la
Hamidah = Hamil
Hima Layang = Hilang
Jali-Jali = Jalan-Jalan
Jayus = joke-garing
Jijay Markijay = Jijik
Kanua = Kamu
Kawilarang = Kawin
Kesindaaaang = Kesini
Kemindang = Kemana
Kencana = Kencing
Kepelong = Kepala
http://niethazakia.blogspot.com/2013/03/ragam-bahasa-kajian-tentang-bahasa-gaul.html
http://rahmanrosemary13.blogspot.com/2010/09/bahasa-alay-vs-bahasa-banci-salon.html